Archive for Tulisan-Berita

SMA Negeri I Nabire, Papua masih memugut biaya Rp 40.000 per siswa

JUBI— SMA Negeri I Nabire, Papua masih memugut biaya Rp 40.000 per siswa untuk biaya mata pelajaran Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK). Padahal mata pelajaran ini telah masuk kurikulum sekolah sehingga tak ada pungutan lagi.

Andi Yapen (26), warga Kelurahan Morgo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua menuturkan, SMA Negri I masih memungut biaya sebesar Rp 40.000 per siswa. Padahal mata pelajaran ini telah masuk kurikulum sekolah sehingga tak ada pungutan lagi.
“Setahu sa setiap siswa sudah membayar biaya Komite Sekolah sebesar Rp 36.000 per siswa berarti tong pu anak-anak tara bayar uang tambahan lagi. Tapi mengapa masih saja ada pungutan tambahan. Pada hal kalau sa lihat mata pelajaran TIK itu su masuk dalam  mata pelajaran yang dikurikulumkan,” terang Yapen yang dihubungi via telpon di Nabire, Rabu (25/3).
Yapen menambahkan, saat ditanya mengenai biaya mata pelajaran TIK, dewan guru berdalih bahwa perlengkapan komputer di sekolah tak memadahi sehingga sebagian besar siswa Kelas 12 dan Kelas 13 menerima mata pelajaran TIK disalah satu tempat kursus komputer milik guru bidang studi TIK. Berhubung mendapat pelajaran TIK di tempat kursus komputer milik guru tersebut, terpaksa dewan guru memintah biaya tambahan dari oran tua murid. “Sa heran sekali masa sudah ada pendidikan gratis tapi masih ada pungutan biaya. Dong tara malu ka, su dapat gaji dari pemerintah baru masih minta sama orang tua,“ tukas Yapen.
Karena itu, Yapen berharap agar Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nabire dapat menyelesaikan permasalahan ini. “Jika dinas dong tara tanggapi, maka sa akan lapor ke Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) agar dong periksa guru-guru di SMA Negeri I Nabire,” ujar Yapen. (Carol Ayomi)

Iklan

Leave a comment »

Aksi Damai FMPI Sempat Ricuh Di Polsek Abepura

JUBI—– Sesudah Aspirasinya diterima oleh Depertemen Hukum dan HAM RI, Kantor Wilayah Provinsi Papua Mahsiswa dengan tertib meninggalkan kantor tersebut. Tak lama kemudian sempat terjadi ricuh di Polsek Abepura Jayapura, Papua Sekitar pukul 14.00 WIT.

Dari pantauan JUBI Awal kejadian kericuan tersebut disebabkan oleh massa aksi FMPI yang berkumpul di badan jalan Sentani — Abepura di depan Gereja Khatolik Gembala Baik setelah aksi berakhir. Mereka hendak menghentikan sebuah truk untuk mengangkut mereka pulang ke Sentani, Waena dan sekitarnya. Memang Situasi di siang hari itu sangat panas dan dapat memancing emosi mahasiswa, ditambah lagi dengan kemacetan lalu lintas membuat massa tak sabar untuk segera pulang, Hal ini disebabkan massa FMPI memblokir separuh jalan dan memintah agar pihak kepolisian memberikan truk untuk mengantar pulang mereka ke tempatnya masing-masing.
Namun sayang Aksi damai tersebut dikotori oleh aksi oknum yang tak bertangung jawab dengan memukul kepala belakang seorang mahasiswa asal pengunungan tengah yang mengikuti aksi  tersebut. Melihat kejadian tersebut serentak massa mengejar warga pendatang (non Papua) itu hingga ke depan Polsek Abepura Jayapura. Beberapa orang massa membawa kayu serta batu dan meminta agar orang tersebut dikeluarkan. “Kasih keluar dia dan jangan kasih sembuyi, kalian kira kami takut polisi kamu ka,” teriak seorang pemuda yang hendak melempar Kantor Polisi..
Tak lama kemudian masa berhasil ditenangkan oleh pihak kepolisian dan penanggung jawab aksi tersebut.

Terdengar Nyanyian Khas Pegunungan

Namun sesudah massa dibubarkan dari depan Polsek Abepura, Massa kembali menghentikan sebuah truk berwarnah hijau di lampu merah Abepura dan naik ke atas truk tersebut. Melihat massa yang datang semakin banyak sopir truk tersebut memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Massa yang melihat sopir truk itu membelokkan mobilnya ke arah Saga Mall, Abepura langsung melempar truk tersebut dengan sepatu, batu dan kayu. Selanjutnya, truk tersebut berhasil lolos dari kejaran massa hingga ke depan Bank Papua – Abepura. Sebagian massa yang tak sempat melempar truk tersebut memutar arah dan melempari beberapa motor di depan rumah makan Padang Perna Abadi dan beberapa ruko yang ada di sekitar lampu merah Abepura. Dari jauh terdengar jelas nyanyian khas pegunungan (Waita), nyanyi rindu itu untuk memangil kawan-kawan berkumpul.
Melihat kejadian tersebut para pemilik toko di depan Gereja Khatolik Gembala Baik, Kantor Pos dan lampu merah serentak menutup tokonya.
Kericuhan itu terjadi sekitar 10 menit, akhirnya pihak Polsek Abepura berhasil menenangkan massa dan menghentikan bus sekolah milik SMU Negeri 6 Jayapura dan dua truk untuk mengantar massa pulang ke Sentani dan sebagian massa pulang dengan satu truk kearah Perumnas 1,2 dan 3 di Waena, Jayapura. Lalu lintas yang sempat macet satu jam akhirnya kembali normal. (Carol Ayomi)

Leave a comment »

Pejabat Sulit Ditemui, Warga Mengeluh

Titin Gobay

Titin Gobay (19)

Written by Kyoshi Rasiey
Wednesday, 11 March 2009
JUBI—Sejumlah pejabat dilingkungan pemerintah Provinsi Papua yang sulit ditemui, tak pelak menimbulkan kekecewaan warga. Sejumlah warga bahkan mengatakan sebaiknya pejabat bersangkutan yang tidak ingin ditemui diberhentikan saja

“Memang agak susah kalau mau bertemu dengan pejabat. Alasannya sangat banyak. Biasanya memang harus buat janji dulu. Tapi ada pejabat juga yang biasa mencari alasan tidak ingin ditemui,” kata Shinta seorang warga di Jayapura saat ditemui JUBI, rabu (11/3).
Menurutnya, pejabat seperti itu memang pantas dipindahtugaskan karena tidak bisa memahami kesulitan warga. Dikatakan, pejabat yang masuk dalam kategori sulit ditemui sangat banyak di Jayapura. Apalagi yang berada didalam lingkungan pemerintah Provinsi. “Ada beberapa yang sangat susah. Biasanya kalau sudah begitu, orang yang bertemu pulang dengan tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya.
Seperti dialami warga, sejumlah wartawan di Jayapura kerap juga mengeluhkan hal yang sama. Sebut saja wartawan dari salah satu media terkemuka di Papua. Wartawan yang tidak ingin menyebutkan namanya itu mengatakan, sejumlah pejabat daerah yang ingin ditemui untuk wawancara biasanya mengelak dengan mengatakan tidak berada ditempat. “Ada juga yang biasa bilang sakit. Padahal kita cuma ingin wawancara saja. Setelah ditelusuri, ternyata pejabat bersangkutan tidak sakit, mereka hanya mengelak saja,” kata dia.
Hal serupa pernah pula dialami wartawan JUBI saat akan mewawancarai seorang pejabat di Jayapura belum lama ini. Selama dua pekan, wartawan JUBI harus menunggu untuk mewawancarai pejabat tersebut yang kini memegang salah satu jabatan terhormat dalam jajaran pendidikan.
Alasan yang dikemukakan Sekretaris Pribadi saat itu adalah “Bapak sedang ke Jakarta untuk urusan dinas, mungkin kembali dalam tiga hari lagi,” ujarnya. Setelah tiga hari kemudian, saat wartawan bersangkutan kembali, alasan serupa pun disampaikan lagi “Ade kembali besok saja karena bapak akan tiba di Jayapura besok”. Masih dengan alasan yang sama, setelah keesokan harinya wartawan JUBI datang dan ingin menemui pejabat tersebut, Sekretaris Pribadi pejabat itu mengatakan “Bapak tidak ada ditempat”. Uniknya, setelah dihubungi melalui handphone, pejabat itu kembali mengelak dengan mengatakan, “Adu maaf Ade, Kaka lagi sakit mungkin bisa satu atau dua hari lagi baru datang wawancara kah.”
Kejadian serupa memang kerap dialami tidak hanya warga tapi juga wartawan. Billy Metemko, seorang peserta unjuk rasa yang digelar selasa kemarin (10/3) di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua bahkan mengatakan sebenarnya tidak hanya pejabat saja yang sulit ditemui. Anggota legislatif, kata dia, juga sangat susah untuk bertatap muka dengan warga. Mereka hanya bertemu dengan warga apabila ada sesuatu yang diinginkan. “Kita sudah dari tadi disini tapi tidak ada anggota dewan yang mau datang. Semuanya sembunyi tidak tahu dimana,” katanya saat ditemui JUBI kemarin.
Dia berharap, tidak hanya pejabat dijajaran dinas saja tapi juga anggota dewan agar tidak lagi membuat diri mereka jauh dengan warga. Karena baginya tentu akan mengakibatkan kekesalan dan kekecewaan yang berkepanjangan. “Kita mau sekarang supaya ada perubahan. Kalau tidak sekarang saja kita akhiri,” katanya lantang. (Carol Ayomi).
http://www.tabloitjubi.com

Leave a comment »

Siprianus Guntur: “Pendidikan Lingkungan Hidup Mesti Dimasukan Dalam Setiap Bidang Studi”

Written by Kyoshi Rasiey
Wednesday, 11 March 2009
JUBI— Pendidikan lingkungan hidup semestinya dimasukan dalam setiap bidang studi karena disetiap mata pelajaran yang diberikan guru akan berbicara tentang lingkungan hidup.

Koodinator Pendidikan dan Pelatihan Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Cykloop (YPLHC) Papua Siprianus Guntur S.Si mengatakan, pendidikan lingkungan hidup sangat penting jika dimasukkan kedalam semua bidang studi dan mata pelajaran mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi diProvinsi Papua. Karena pendidikan lingkungan hidup mempunyai peran penting bagi kehidupan mahkluk hidup termasuk manusia. “Jika pendidikan lingkungan hidup dimasukan ke semua mata pelajaran, maka siswa san mahasiswa akan lebih mengenal dan mengetahui betapa pentingnya lingkungan hidup bagi kelangsungan hidup manusia, ” tukas Siprianus kepada JUBI di ruang kerjanya, Rabu (11/3).
Menurut Siprianus, jika pendidikan lingkungan hidup hanya dijadikan kurikulum atau Muatan Lokal (Mulok), maka pemerintah dan lembaga pendidikan harus diperhatikan adalah dapat menyediakan tenaga ahli untuk bidang studi lingkungan hidup. Karena berbicara soal lingkungan hidup bukan hanya mengenai hutan. Tetapi berbicara mengenai tiga dimensi yakni ekonomi, sosial dan ekologi. “Untuk itu saya berharap agar lingkungan hidup lebih banyak berbicara mengenai ekonomi, sosial dan ekologi jangan hanya berbicara mengenai hutan dan pencemaran lingkungan,” tutur Siprianus.
Siprianus berharap agar Pemerintah Provinsi Papua dapat menyetujui pendidikan lingkungan hidup dijadikan mata pelajaran atau Mulok. Karena jika lingkungan hidup diperkenalkan ke lembaga pendidikan sejak dini mulai dari tigkat SD,SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi maka generasi kedepan akan lebih menjaga dan memelihara lingkungan hidup di Papua. (Carol Ayomi)
http://www.tabloidjubi.com

Leave a comment »

Kemerdekaan Papua Harga Mati, Otsus Di Kembalikan Ke NKRI.

Demo Memintah NKRI Mengembalikan Kemerdekaan Papua Barat, Selasa (10/3) di Jayapura PapuaKemerdekaan Papua Harga Mati, Otsus Di Kembalikan Ke NKRI.

JUBI—– Aksi long march Komite Nasional Papua Barat bertitik kumpul di Expo Waena selanjutnya menuju ke DPRP Papua menyatakan sikap bahwa Kemerdekaan Papua Harga Mati dan Otsus di kembalikan ke NKRI.

Suasana aksi long march Komite Nasional Papua Barat berlangsung dengan damai di depan kantor DPRP Provinsi Papua. Awalnya rakyat Papua merasa bahwa harga dirinya adalah tanah, ras, adat  telah ditindas dan dirampas oleh NKRI selama 45 tahun yang lalu. Tetapi yang selama ini dirasakan adalah hutan, hasil tambang (emas, gas dan minyak bumi) dan kekayaan laut telah dikerok habis. Ditambah lagi dengan lokalisasi WTS dan HIV/AIDS masuk hingga ke kampung-kampung. Untuk itu aksi long march dari Komite Nasional Papua Barat memintah kepada DPRP agar Otsus, Partai dan Pemilu, PNS, MRP, Perusahan dan lain-lain harus ditiadakan ditanah Papua.
Menurut Mantan Juru Bicara TPN/OPM periode 1999-2002 Celsius Sergius Wapay (60), seluruh rakyat Papua mulai dari akar rumput hingga kalangan elite Papua menolak Otonomi Khusus yan diberikan oleh NKRI. Tahun 2006, 12 Agustus rakyat Papua menolak Otsus dengan mengantar peti mati Otsus ke gedung DPRP Papua. Ada beberapa point yang membuat rakyat Papua menolak Otsus. Pertama, Otsus tak mukratis (bernilai), kedua, Otsus tak aklatif (menarik), ketiga, Otsus bukan aspek politik tetapi Otsus merupakan aspek administratif Negara. Lanjut Kata bekas Tapol ini Otsus sebenarnya sudah diberikan sejak jaman penjajahan belanda dulu yang diberi nama De Gouvernement Van Nederlands Nieuw Guinea, 27 Desember 1949. Untuk itu secara tegas seluruh rakyat Papua mengembalikan Otonomi Khusus dan memintah kemerdekaanya. tutur bekas Tapol tahun 1969 dan 1972 kepada JUBI di Depan Gedung Dewan Kesenian Papua di Jayapura, Selasa (12/3).
Ditambahkan Wapay, Selama ini Otsus dipaksakan untuk rakyat Papua yang hanya merasakan adalah mereka para elite Pemerintah Papua.  Yang rakyat Papua minta adalah kembalikan kemerdekaan Papua Barat yang dideklarasikan pada 01 Desember 1961. Namun sebelum deklarasi kemerdekaan Papua Barat tepatnya 19 Novembar 1961terjadi kongres pertama (Komite Nasioanal Papua) membahsa tentang atribut, lambang, lagu dan bendera Papua. Kongres tersebut di ikuti oleh 70 orang Papua mewakili dari berbagai kumpulan politik, suku dan dua partai politik  besar yakini PARNA (Parta Nasioanal) ketua Herman Wayoi – Eliezer Bonay dan Demokratische Volks Partij (DVP) Alm. A.Y.A Runtuboy dipimpin oleh Ketua komite Nasonal Alm. Willem Inuri. “Kongres Papau pertama yang paling lama dibahas adalah masalah bendera,” ungkap Wapay.
Untuk itu Wapay Berharap agar Otsus ditarik kembali oleh NKRI karena sejak jaman Belanda, Soekarno, Soeharto dan era Reformasi rakyat Papua sudah mendapatkan otonomi sebanyak lima Kali. Yang ratyat Papua inginkan adalah dikembalikan kemerdekaan Papua Barat yang dideklarasikan tahun 1961. Karena Presiden Soekarno mengakui adanya Negara Papua Barat, salah satu pointd Dwikora adalah bubarkan Negara Papua Barat buat boneka Belanda. “Berarti saat itu Presinden Soekerno telah mengakui pembentukan Negara Papua Barat. Kami hanya memintah kembalikan hak rakyat Papua untuk mendeka,” tutur Wapay.  (Carol Ayomi

Leave a comment »

Budaya Merupakan Pintu Masuk Untuk Mencegah HIV dan AIDS

Budaya Merupakan Pintu Masuk Untuk Mencegah HIV dan AIDS

“Tidak ada obat untuk menyembuhkan, tapi melalui media transformasi dan informasi budaya Papua dapat mencegah penyebaran HIV dan AIDS di kalangan muda-mudi”

JUBI – Bagi masyarakat Papua pada umumnya sudah mengenal HIV dan AIDS serta Malaria merupakan penyakit yang paling ditakutkan. Kalau tidak berhati-hati maka nyawalah taruhannya. Malaria merupakan penyakit epidemik sejak dahulu, tapi kalau berbicara mengenai HIV dan AIDS sudah tentu semua orang tahu bahwa pertama kali virus ini ditemukan di Kota Mereuke tahun 1992. Penyebaran HIV dan AIDS tergolong cepat, jumlah kasus yang didapat per 31 desember 2007 adalah 3629 kasus. Diantaranya yang paling rentan untuk terkena HIV dan AIDS adalah kelompok umur 20-29 tahun. Kelompok ini merupakan kelompok anak-anak muda yang beresiko tinggi, karena selalu berganti-ganti pasangan, melakukan seks bebas serta tidak mengunakan kondom.
Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Tak Ada Air Bersih, Skabies Landa Warga

Tak Ada Air Bersih, Skabies Landa Warga

JUBI – “Penyakit kudis atau gatal-gatal masih banyak ditemukan dikalangan masyarakat yang tinggal di Kampung-kampung yang berada dipesisir pantai Jayapura. Tidak adanya air bersih menyebabkan masyarakat mengkonsumsi mata air yang berkapur untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan keperluan lainnya”

Kesehatan lingkungan  sangatlah penting untuk menjamin kehidupan yang sehat didalam keluarga dan masyarakat di suatu kampung. Kurangnya pemahaman akan kesehatan lingkungan. Sehingga membuat masyarakat yang tinggal di  pesisir pantai Jayapura pada umumnya menderita penyakit Skabies atau kudis. Ditambah lagi masalah tranportasi yang hanya bisa dijangkau dengan mengunakan motor tempel, oleh karena itu untuk menjaga kesehatan diri sendiri saja susah, apa lagi menjadi kesehatan lingkungan. Untuk itu pihak kesehatan jangan hanya menempatkan bidan. Tapi haruslah menempatkan perawat untuk membentuk pekerajaan bidan yang notabenenya membantu ibu hamil, melahirkan, menyusui dan balita.
Salah satu kampung yang tingkat skabiesnya tinggi adalah Kampung kendate. Kampung yang berada diwilayah Distrik Depapre Kabupaten Jayapura hanya memiliki seorang bidan
Penyakit yang seringkali diderita masyarakat adalah Malaria dan Diare. Namun kebanyakkan anggota masyarakat di kampung ini juga terlihat menderita Skabies (kudis). Menurut Lea Boway, 42 tahun bidan kampung Kendate penyebabnya adalah air yang digunakan masyarakat berasal dari karang yang masih hidup. “Airnya kalau kita masak, itu setengah bagian belanga itu kapur. Tapi setidaknya air yang bagus hanya air yang berasal dari mata air itu dan memenuhi syarat untuk dipakai mandi dan minum,” ujar Lea. Seperti juga Kampung Tablanusu, walaupun bukan berasal dari karang hidup, tapi airnya sama berkapur.
“Disini walaupun airnya mengalir bagus, masalah adalah karang hidup. Mandi boleh saja tapi badan gatal-gatal, terus kebanyakkan masyarakat di sini sakit ginjal karena terus menerus minum air yang berkapur,” kata Lea. Ia memperkirakan, hal ini diakibatkan masyarakat minum air dalam keadaan panas dan kapurnya belum mengendap dengan baik, sehingga saat mencapai usia 40 hingga 50 tahun banyak masyarakat mengeluh dan saat diperiksa, mereka menderita sakit ginjal.
Untuk penyakit malaria, selama ia tangani tidak ada yang meninggal dunia. Menurut pengamatannya, masyarakat asli Kabupaten Jayapura, jika ada merasa sakit seperti malaria, masyarakat langsung berobat dan diobati langung sembuh. Tapi jika masyarakat yang berasal dari luar Papua atau kabupaten lain, seperti Wamena dan Paniai biasanya agak parah. “Mereka datang ke Jayapura, mereka sepertinya kaget dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan malaria. Mereka sangat rawan sekali, jika tidak diantisipasi lebih dini. Mungkin Cuma malaria plus satu saja langsung meniggal dunia. Tetapi anak-anak kecil disini sampai malaria plus 3masih bisa bermain,” ujar Lea. Bahkan saat panas tinggi, juga tetap bisa bermain. Tiap hari ada saja pasien yang datang berobat ke Polindesnya. Kadang sampai belasan, kadang juga tidak ada sama sekali.

Cenderung Penyakit Malaria dan Skabies.
“Kalau untuk penyakit Skabies biasanya saya kasih obat Amoxcilin dan CTM untuk gatal – gatalnya karena kami disini obatnya sangat terbatas, jadi kami hanya anjurkan agar dapat menjaga kebersihan. Walaupun air jelek, bagaimanapun juga kita harus berusaha supaya pakaian yang kita pakai tetaplah bersih,” lanjut Bidan Lea.
Polides ini dibangun sejak tahun 2006, karena permasalahan dana sehingga harus menunggu hingga ada dana lagi baru dapat diselesaikan. Hingga pada bulan Januari polides tersebut selesai dikerjakan dan boleh ditempati. Sebelumnya Bidan Lea tinggal di Tablanusu. Setiap harinya ia harus pulang pergi mengobati pasien di Kampung Kendate. “Dokter kasih tanggung jawab untuk saya yakni kalau ada ibu hamil, melahirkan, ibu menyusui dan bayi balita barulah saya datang untuk mengobati itu merupakan tanggung jawab bidan,” katanya. Untuk pengobatan lain seperti luka dan sebagainya, sebagai bidan itu dilengkapi dengan keterampiran untuk mengisi kekurangan perawat.  Sedangkan pekerjaan pokoknya yaitu membantu melahirkan ibu hamil. Jadi puskemsmas menempatkan bidan desa hanya untuk menolong ibu hamil. Distrik Depapre pada umumhya memiliki Polindes . Putu hanya ada di Yosufar saja yang sekarng menjadi distrik Rafinirirara. Polindes khusus memperkerjakan bidan bidan saja.
Mama Lea mengakui persediaan obat di polindesnya agak susah, jadi masyarakat haruslah dapat menjaga kebersihan lingkungan terutama terutama untuk ibu-ibunya. Setiap kali mengunjungi pasiennya, untuk pelayanan ibu hamil, ibu melahirkan Ia selalu meminta para ibu agar dapat menjaga kebersihan rumah, kamar, tempat tidur agar tidak mudah tertular oleh penyakit Skabies. “Karena anak main kotor dan pulang terus mandi, tapi tetap memakai pakaian yang kotor, ya.. sama saja kita memelihara penyakit di tubuh anak kita. Jadi pengobatan kita hanyalah sia-sia saja. Minimal kalau anak-anak main haruslah mandi yang bersih lalu pakai pakaian yang bersih, jika tidak kotoran tetap menempel di badan,” kata ibu lima anak ini. Jangan setelah sakit terus datang untuk berobat, namun tidak ada upaya pencegahan sama sekali.
Maksud dari pengecahan adalah menjaga lingkungan agar bersih, buang air pada tempatnya (anak-anak kecil di kampung sering kali buang air besar disembarang tempat) karena kadang ibu –ibu tidak tahu kalau itu menimbulkan penyakit.
Selama ini obat-obatan Polindes berasal Puskesmas induk Depapre. “Setiap kali pengobatan kita buat laporan, terus kita terima obat. Sementara obat itu kadang ada kadang kurang. Karena memang pengadaan di Polindes harus meminta ke gudang, kadang jumlahnya memang terbatas itu sudah yang saya terima. Jadi kita dari sekian kampung yang ada di Distrik Depapre, kita ada sebelas desa. Walaupun suadah terbagi Distrik pemecahan yang baru, tetapi khusus depapre ini masih dilibatkan,” ceritanya. WAlaupun sudah menjadi distrik sendiri, Distrik Rafinirara masih bergantung kepada Distrik Depapre dan masih belum terlepas dari pelayanan kesehatan dari Depapre. Jika diperhatikan distrik depapre memang berada di tengah-tengah, sehingga distrik yang luar wilyahnya seperti distrik Yokari dan kampung kampung distrik Demta yang dekat dengan Depapre masih berobat ke Depapre. Apa lagi distrik Yokari semuanya masih berobat ke distrik Depapre.
Contohnya kampung Moy. Hingga saat ini Kampung Moy masih datang berobat ke Depapre. “Jadi kita punya permintaan obat yang sedikit itu dari gudang sesuai dengan kita punyai target, tapi ternyata banyak pasien yang datang. Misalnya, saya meminta obat Paracetamol 100 butir, tetapi dalam kekurangan obat tidak mungkin dari gudang kasih 100 butir obat, mungkin akan dikasih 50 butir obat saja. Ini merupakan kendala-kendala selama bertugas di kampung-kampung yang ada di Depapre. Sementara kita sebagai petugas yang ada disini, karena kartu Askes  itu sebenarnya sudah berlaku, cumanya kekurangan kita di Kampung itu macam obat sampai kadang tidak ada itu mau ambil dari mana. Terpaksa jam sore yang pasien itu datang untuk berobat terpaksa saya harus pungut biaya sebesar Rp. 5000,- untuk pengobatan yang bukan di jam kerja,” katanya. Jam kerja antara pukul 08.00 – 12.00 WIP. Jika sampai kekurangan obat, uang hasil pengobatan diluar jam kerja ia gunakan sebagai alternatif pengadaan dengan membeli obat di Apotik di Kota Sentani.
Mama Lea sudah empat tahun bertugas dikampung Kendate. “Saya mulai bertugas pada tahun 1996 di Kampung Tablasupa, saya dipindahkan ke Lereh selama dua tahun. Kemudian saya dipindahkan ke Kendate jadi sudah empat tahun,” ceritanya. Mama Lea sendiri berasal dari Kampung Tablanusu, seluruh keluarnya termasuk anak-anaknya tinggal di Tablanusu bersama suaminya. “Mereka bersekolah disana, bisanya saya pulang pergi jika tidak ada pasien yang darurat. Namun Jika ada  ibu hamil barulah saya tetap bertahan disini. Mungkin sementar mau melahirkan jadi saya berada ditempat,” katanya. (Carol Ayomi)

Leave a comment »